Rabu, 04 April 2012

Ketika Hidayah Menjauh dan Mendekat



Imam muslim mengabadikan sebuah kisah yang di sampaikan oleh Rasulullah. Kisah sebuah ketulusan kunci mendapatkan hidayah dan kemulyaan. Disebutkan bahwa Rasulullah bercerita tentang seorang yang sangat gemar beribadah. Ia sengaja memilih tempat yang jauh dari kebisingan kota, di atas gununglah yang jadi pilihanya. Cukup lama ia berada di tempat tersebut, hari-harinya adalah hanya untuk bersujud dan berdzikir kepada Allah. Ditempat yang berbeda, yaitu ditengah kebisingan manusia mencari dunia, hiduplah seorang pemuda yang bergelimang dalam dosa dan kenistaan. Ia adalah preman pasar yang dalam kesehari-harianya adalah menimbun dosa
Pada suatu ketika ahli ibadah itu kehabisan bekal makanan, maka iapun harus segera turun ketengah pasar untuk membeli bekal makanan secukupnya. Dalam waktu yang bersamaan, preman pasar yang terkenal dengan kejahatanya tersebut tiba-tiba tergerak hatinya untuk bertemu dengan ahli ibadah yang tinggal di lereng gunung. Ia yakini ia adalah orang soleh dan kedatanganyapun adalah untuk tujuan yang amat mulya yaitu ingin mendengar nasehat dan mendapatkan bimbingan dari seorang ahli ibadah. Maka iapun mengambil keputusan untuk pergi keatas gunung untuk menemui orang tersebut
Karena waktu untuk memenuhi keperluan dua manusia tersebut adalah sama maka mau tidak mau mereka harus berpapasan ditengan jalan. Di pegunungan yang ada adalah jalan setapak yang hanya cukup satu orang berjalan, jika ada orang lain yang datang dari arah berlawanan maka salah satu dari mereka harus mengalah. Begitulah pemandangan yang terjadi pada saat itu antara sang  yang ahli ibadah dan preman yang ahli maksiat.
Suasana yang amat mengagetkan sang preman saat itu, berpapasan dengan orang yang dikagumi dan di hormati ditempat yang tidak di duga yaitu di tengah jalan setapak. Ia merasa belum siap bertemu di tempat tersebut, ia ingin bertemu dengan ahli ibadah  dirumah dan tempat ibadahnya dan bukan di jalan. Sang preman merasakan didalam dirinya rasa takut, kagum dan hormat bercampur menjadi satu. Itulah yang menjadikan sang preman terduduk di jalan setapak tanpa ia sadari. Ia tidak mampu bertutur kata sepatah katapun dan ia hanya mampu memberi isyarat dengan tanganya kepada ahli ibadah tersebut yang maksudnya "silakan melewati jalan setapak ini!" Sang pun berlalu dan mata sang premanpun tidak berpindah  dari sang  hingga lenyap dari pandanganya
Suasana lain yang di rasakan sang  di saat matanya tertuju kepada sang preman yang berdiri di jalan setapaknya. Ia merasa risih dengan pemandangan itu maka iapun melewati sang preman dengan kesombonganya, tidak ia mengucapkan salam kepadanya, tidak ia bertanya keperluan dan tujuan sang preman ke atas gunung. Yang ada adalah keangkuhan dan kesombonganya karena merasa dia adalah  dan ahli ibadah yang seolah benar-benar  lebih dekat kepada Allah SWT lalu ia  memandang sang preman dengan mata merendahkan dan meremehkan. Ditengah-tengah cerita ini Rasulullah menjelaskan bahwa karena kesombongan sang  tersebut maka Allah mencabut hidayah dari hatinya dan karena keinsyafan, kekaguman dan rasa hormat sang preman kepada   maka Allah memberikan hidayah kepadanya dan mengangkatnya menjadi kekasihnya.
Itulah penjelasan dari Rasulullah bahwa orang yang katanya ahli ibadah, alim, soleh akan tetapi jika itu semua menjadikan ia merendahkan orang lain maka hal itu akan menjadikan sebab di cabutnya hidayah Allah SWT. Begitu sebaliknya biarpun seseorang bergelimang dalam kejahatan dan kemaksiatan  akan tetapi ada keinsyafan, kekaguman dan cinta di hatinya kepada , orang soleh dan ahli ibadah maka hal itu akan menjadikan sebab mendapatkan hidayah dari Allah SWT.
Cerita singkat yang penuh dengan makna antara ahli ibadah dan preman yang berakhirkan Allah mencabut hidayah ahli ibadah karena kesombongannya. Seorang preman yang kemudian insyaf dan kesungguhan untuk bertobat dan memperbaiki diri membuat Allah memberikan hidayah kepadanya.

Hidayah adalah sebuah barang yang sangat berharga, layaknya emas, intan berlian yang kita akan sangat hati-hati menjaganya begitulah hidayah. Sekali hilang akan sangat sulit untuk mengembalikan atau menemukannya kembali seperti sedia kala. Allah mengingatkan kita dalam firmannya :

"Wahai Tuhan kami, janganlah Engkau gelincirkan hati-hati kami selepas Engkau memberi kami petunjuk dan kurniakan kami rahmat dari sisi-Mu. Sesungguhnya Engkau adalah Maha Pemberi." (Ali Imran: 8)


Ada beberapa keadaan ketika seseorang tidak akan mendapatkan hidayah Allah :
1.      Orang yang menutupi diri untuk mendapatkan kebenaran. Mereka menutupi mata dan telinga ketika kebenaran itu menghampiri mereka.
2.      Orang munafik yang melupakan Allah. Sehingga Allah pun melupakannya.
 “Orang-orang munafik laki-laki dan perempuan. sebagian dengan sebagian yang lain adalah sama, mereka menyuruh membuat yang munkar dan melarang berbuat yang ma'ruf dan mereka menggenggamkan tangannya[648]. mereka Telah lupa kepada Allah, Maka Allah melupakan mereka. Sesungguhnya orang-orang munafik itu adalah orang-orang yang fasik.”  (QS At-Taubah: 67)

3.      Orang yang fasik yang bergelimang dosa. Ketika diberikan pilihan antara perbuatan yang baik atau buruk dan dia tehu mana yang baik akan tetapi masing memilih piplihan yang membuatnya mendapat dosa, inilah orang fasik. Tidak akan diberikan hiddayah oleh Allah. Allah berfirman :

“Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang Telah diberikan kepada mereka, kamipun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang Telah diberikan kepada mereka, kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, Maka ketika itu mereka terdiam berputus asa” (QS Al-An'am:44.)

Tiga penyebab diatas adalah sedikit dari banyak penyebab mengapa kita dijauhi oleh hidayah. Yang terpenting saat ini adaalh kita melihat dalam diri kita sendiri masing-masing. Sebagai apakah saya !. ketika kita sudah memiliki hidayah tersebut  marilah kita terus memperbaiki diri dan memandang yang belum mendapatkan hidayah dengan penuh kasih saying dan penuh cinta tidak seperti ahli ibadah yang terdapat dalam hadist diatas dengan penuh keangkuhan dan kesombongan sehingga hidayah yang ada padanya dicabut. Sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim sudah dapat menjadi landasan dasar untuk terus menyebarkan hidayah
“Apabila Allah member hidayah kepada seseorang melalui upayamu, itu lebih baik bagimu daripada apa yang dijangkau matahari sejak terbit sampai terbenam.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Disisi yang lain seorang preman yang benar-benar ingin memperbaiki dan bertobat karena kesungguhannya maka dia diberikan Hidayah oleh Allah. Firman Allah :
 “  Kecuali orang-orang yang Taubat dan mengadakan perbaikan dan berpegang teguh pada (agama) Allah dan tulus ikhlas (mengerjakan) agama mereka Karena Allah. Maka mereka itu adalah bersama-sama orang yang beriman dan kelak Allah akan memberikan kepada orang-orang yang beriman pahala yang besar.”(Q.S.An-nisaa’:146).

Wallahu a'lam bishshowab.
Oleh : Evan

2 komentar:

  1. Assalamu alaikum ustad...sy mau btanya..sy mempunyai teman,setahu sy dia sangatlah solehah,tpi akhir2 ini dia sering jalan berboncengan motor dg teman laki2 sekantor utk beralasan makan diluar..berkali2 sy kasih nasihat,tpi dia slalu melakukan hal tsebut kembali..apa yg mesti sy lakukan utk mengarahkan dia kembali kpada kebaikan..krn sy takut terjadi fitnah kpd teman sy tsebut ustad

    BalasHapus
  2. Assalamu alaikum ustad...sy mau btanya..sy mempunyai teman,setahu sy dia sangatlah solehah,tpi akhir2 ini dia sering jalan berboncengan motor dg teman laki2 sekantor utk beralasan makan diluar..berkali2 sy kasih nasihat,tpi dia slalu melakukan hal tsebut kembali..apa yg mesti sy lakukan utk mengarahkan dia kembali kpada kebaikan..krn sy takut terjadi fitnah kpd teman sy tsebut ustad

    BalasHapus