Kesatuan
Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia 2x
Berjuang
tegakkan ketauhidan untuk kemulyaan
Berbekal
ilmu iman yang mendalam
Mahasiswa
Muslim Indonesia
Intelektual
masyarakat beriman
Islam
jiwa perjuangan
Kebatilan
adalah musuh insan
Islam
jalan perjuangan…..
Sungguh rindu rasanya
menyanyikan kembali lagu yang membuncahkan semangat para pejuang ini. Lagu yang
selalu mengingatkan pada nostalgia manisnya ukhuwwah islamiyyah diantara para ikhwah.
Namun aku tak tahu harus menyanyikannya bersama siapa di Negeri Tirai Bambu
ini….
Merindukan teman
seperjuangan, itulah yang kurasakan saat ini. Hidup di tengah-tengah masyarakat
hedonis yang bahkan tidak mengenal Tuhan sama sekali. Orang-orang yang hanya
menyembah para leluhur dan nenek moyang sebagai pendahulu mereka. Orang-orang
yang sangking cintanya pada dunia hingga takut mati dan tidak mau meninggalkan
segala kenikmatan dunia.
Di saat-saat seperti ini
selalu terbayang kebersamaan yang indah bersama jundi-jundi KAMMI yang selalu
menjadikan Islam sebagai nafas perjuangan. Para jundi yang tidak gentar dengan
apapun selain Allah. Tentara-tentara yang selalu memperjuangkan kepentingan
ummat melebihi kepentingan dirinya. Pejuang-pejuang pemberani yang selalu
menempatkan kebathilan sebagai musuh utamanya. Prajurit tangguh yang pastinya
menjadikan ukhuwwah islamiyyah sebagai watak pergaulan dengan sesama.
Kali ini aku benar-benar
merasakan bagaimana rasa rindu yang membuncah kepada para ikhwah Indonesia yang sefikroh, yang
bisa diajak bergerak dan menggerakkan yang lain. Saudara-saudara seiman yang
tanpa ucapan kata verbal pun sudah saling memahami satu sama lain. Teman-teman
yang selalu menjaga pandangan dan hatinya agar tidak terjerumus ke dalam jerat
iblis dan setan yang melenakan. Sahabat-sahabat yang bisa diajak berbagi baik
di saat air mata mengalir ataupun senyum mengembang.
Selalu menyenangkan tatkala
bernostalgia mengenang masa-masa itu. Masa-masa yang tak akan pernah terjadi di
bumi Allah yang aku pijak sekarang. Jangankan menemukan teman seperjuangan,
menemukan orang muslim pun sangat susah di sini. Jangankan sholat berjama’ah,
untuk menemukan masjid saja harus naik bus dulu sekitar 20 menit dengan biaya
yang tidak murah. Sampai di masjid pun, jangan harap bisa menemukan remaja
ataupun anak muda. Masjid tua yang sudah mulai terkelupas dindingnya ini hanya
berisi para muslim paruh baya ataupun kakek-nenek yang sudah tua renta.
Akhirnya aku mulai
berpetualang untuk menemukan kehangatan Islam di Xinzheng. Kalaupun tidak
bertemu dengan teman seperjuangan, paling tidak aku akan menemukan saudara
seiman yang bisa menjadi pengobat rasa rinduku. Dengan berbekal bahasa China
yang didominasi bahasa tarzan (bahasa tubuh), aku menemukan keluarga muslim
yang sangat welcome kepada kami, para mahasiswa UMY. Walaupun kami tidak bisa
berkomunikasi dengan lancar karena kendala bahasa, namun keramahan yang
terpancar di wajah mereka benar-benar menjadi pelipur lara di tengah
kegersangan jiwa kami akan sentuhan Islam.
Kepala keluarga tersebut
yang merupaka a hong (imam) di masjid adalah seorang pria berwajah teduh yang
sangat sederhana. Walaupun rumah mereka kecil, namun mereka selalu memberi
banyak hal dan makanan kepada kami. Itulah kadang-kadang yang membuat kami
sungkan untuk sering-sering bertamu, karena mereka terlalu baik. Kami hanya
memberi mereka abon sapi Indonesia, kerudung Indonesia, gantungan kunci motif
batik, serta buah-buahan segar yang kami beli di SIAS university, kampus kami.
Namun kebaikan mereka sungguh tidak bisa dibandingkan dengan apa yang telah
kami beri. Tiap kali bertamu ke rumah mereka, kami mendapat banyak sekali
makanan. Sampai-sampai hampir semua isi dapur diberikan kepada kami. Bahkan di
kunjungan kami yang terakhir, kami dibuat terkaget-kaget dengan satu kerdus
besar daging sapi yang diawetkan. Dan di labelnya tertulis “tho’amul muslimin”
yang itu berarti bahwa daging tersebut dibuat oleh orang muslim juga.
Padahal di Xinzheng sangat
susah sekali mendatkan daging halal. Restoran-restoran pada umumnya pasti
menyediakan daging babi ataupun daging ayam dan sapi yang tidak disembelih
menggunakan nama Allah. Itulah sebabnya harga daging di restoran muslim relatif
lebih mahal, karena memang sangat susah menemukan daging yang disembelih oleh
orang muslim. Dan aku langsung terbengong-bengong begitu istri a hong memaksaku
untuk membawa kardus besar yang berisi daging halal tersebut. Aku ingin
menolaknya, karena pemberian itu terlalu mahal untuk kami. Namun beliau tetap
bersikeras memberikan daging tersebut. Akhirnya kami pulang dengan membawa
daging sapi halal. Dan malamnya, kami (mahasiswa Indonesia dari UMY dan UBAYA)
pun bisa berpesta dengan mengolah daging tersebut menjadi makanan Indonesia.
Hanya saja aku
terheran-heran dengan wanita-wanita muslim yang juga melaksanakan sholat Jum’at
sebagaimana laki-laki. Seumur hidupku baru kali ini aku ikut sholat Jum’at. Dan
ternyata mereka menganggap bahwa sholat Jum’at itu juga wajib bagi perempuan,
sehingga setelah melaksanakan sholat Jum’at mereka tidak sholat dzuhur lagi.
Sekarang aku selalu ikut sholat Jum’at berjama’ah untuk mengobati kerinduanku
akan rumah Allah. Meskipaun setelah itu aku juga melaksanakan sholat dzuhur,
namun itu semua sangat menyenangkan. Karena di masjid aku bisa bertemu dengan saudara-saudara
seiman meski usia mereka terpaut jauh dariku.
Untuk urusan makan, restoran
muslim di SIAS maupun di Xinzheng sangatlah sedikit, karena jumlah muslim di
sini memang minoritas. Namun Alhamdulillah restoran muslim di sini banyak
digemari masyarakat China. Karena muslim terkenal akan kebersihan, maka
orang-orang pun lebih suka makan di restoran muslim. Hal ini yang membuat kami
harus bersabar antri saat membeli makanan di restoran muslim. Untuk mengetahui
apakah restoran itu milik orang muslim atau bukan, aku hanya perlu melihat
papan namanya. Jika di situ tertera tulisan arab “tho’amul muslimin”, maka aku
tidak akan ragu lagi untuk makan daging apapun di situ.
Kehadiran para muslim di
masjid ataupun di kedai dan restoran muslim sungguh sangat membantuku untuk
mengobati rasa rinduku terhadap saudara-saudara muslim di Indonesia. Wajah-wajah
mereka yang tampak lebih teduh daripada wajah orang China kebanyakan
benar-benar membuat hati ini terasa nyaman. Hingga aku merasa seperti berada di
negeri sendiri. Ditambah saat ini China tengah menyongsong musim semi yang
ceria. Bunga-bunga aneka warna menghiasi taman-taman dan pekarangan. Dan
kuntum-kuntum kerinduanku mulai bermekaran menanti satu tahun lagi untuk
bertemu deangan para jundi pembela Islam sejati…. (International student
dormitory of SIAS International University, 02/04/2012)
Kader KAMMI UMY,
Arina Fikriya

Tidak ada komentar:
Posting Komentar