Rabu, 04 April 2012

Kuntum Bunga Kerinduan untuk KAMMI



Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia 2x
Berjuang tegakkan ketauhidan untuk kemulyaan
Berbekal ilmu iman yang mendalam
Mahasiswa Muslim Indonesia
Intelektual masyarakat beriman
Islam jiwa perjuangan
Kebatilan adalah musuh insan
Islam jalan perjuangan…..

Sungguh rindu rasanya menyanyikan kembali lagu yang membuncahkan semangat para pejuang ini. Lagu yang selalu mengingatkan pada nostalgia manisnya ukhuwwah islamiyyah diantara para ikhwah. Namun aku tak tahu harus menyanyikannya bersama siapa di Negeri Tirai Bambu ini….
Merindukan teman seperjuangan, itulah yang kurasakan saat ini. Hidup di tengah-tengah masyarakat hedonis yang bahkan tidak mengenal Tuhan sama sekali. Orang-orang yang hanya menyembah para leluhur dan nenek moyang sebagai pendahulu mereka. Orang-orang yang sangking cintanya pada dunia hingga takut mati dan tidak mau meninggalkan segala kenikmatan dunia.

Di saat-saat seperti ini selalu terbayang kebersamaan yang indah bersama jundi-jundi KAMMI yang selalu menjadikan Islam sebagai nafas perjuangan. Para jundi yang tidak gentar dengan apapun selain Allah. Tentara-tentara yang selalu memperjuangkan kepentingan ummat melebihi kepentingan dirinya. Pejuang-pejuang pemberani yang selalu menempatkan kebathilan sebagai musuh utamanya. Prajurit tangguh yang pastinya menjadikan ukhuwwah islamiyyah sebagai watak pergaulan dengan sesama. 

Kali ini aku benar-benar merasakan bagaimana rasa rindu yang membuncah kepada  para ikhwah Indonesia yang sefikroh, yang bisa diajak bergerak dan menggerakkan yang lain. Saudara-saudara seiman yang tanpa ucapan kata verbal pun sudah saling memahami satu sama lain. Teman-teman yang selalu menjaga pandangan dan hatinya agar tidak terjerumus ke dalam jerat iblis dan setan yang melenakan. Sahabat-sahabat yang bisa diajak berbagi baik di saat air mata mengalir ataupun senyum mengembang. 

Selalu menyenangkan tatkala bernostalgia mengenang masa-masa itu. Masa-masa yang tak akan pernah terjadi di bumi Allah yang aku pijak sekarang. Jangankan menemukan teman seperjuangan, menemukan orang muslim pun sangat susah di sini. Jangankan sholat berjama’ah, untuk menemukan masjid saja harus naik bus dulu sekitar 20 menit dengan biaya yang tidak murah. Sampai di masjid pun, jangan harap bisa menemukan remaja ataupun anak muda. Masjid tua yang sudah mulai terkelupas dindingnya ini hanya berisi para muslim paruh baya ataupun kakek-nenek yang sudah tua renta. 

Akhirnya aku mulai berpetualang untuk menemukan kehangatan Islam di Xinzheng. Kalaupun tidak bertemu dengan teman seperjuangan, paling tidak aku akan menemukan saudara seiman yang bisa menjadi pengobat rasa rinduku. Dengan berbekal bahasa China yang didominasi bahasa tarzan (bahasa tubuh), aku menemukan keluarga muslim yang sangat welcome kepada kami, para mahasiswa UMY. Walaupun kami tidak bisa berkomunikasi dengan lancar karena kendala bahasa, namun keramahan yang terpancar di wajah mereka benar-benar menjadi pelipur lara di tengah kegersangan jiwa kami akan sentuhan Islam.

Kepala keluarga tersebut yang merupaka a hong (imam) di masjid adalah seorang pria berwajah teduh yang sangat sederhana. Walaupun rumah mereka kecil, namun mereka selalu memberi banyak hal dan makanan kepada kami. Itulah kadang-kadang yang membuat kami sungkan untuk sering-sering bertamu, karena mereka terlalu baik. Kami hanya memberi mereka abon sapi Indonesia, kerudung Indonesia, gantungan kunci motif batik, serta buah-buahan segar yang kami beli di SIAS university, kampus kami. Namun kebaikan mereka sungguh tidak bisa dibandingkan dengan apa yang telah kami beri. Tiap kali bertamu ke rumah mereka, kami mendapat banyak sekali makanan. Sampai-sampai hampir semua isi dapur diberikan kepada kami. Bahkan di kunjungan kami yang terakhir, kami dibuat terkaget-kaget dengan satu kerdus besar daging sapi yang diawetkan. Dan di labelnya tertulis “tho’amul muslimin” yang itu berarti bahwa daging tersebut dibuat oleh orang muslim juga. 

Padahal di Xinzheng sangat susah sekali mendatkan daging halal. Restoran-restoran pada umumnya pasti menyediakan daging babi ataupun daging ayam dan sapi yang tidak disembelih menggunakan nama Allah. Itulah sebabnya harga daging di restoran muslim relatif lebih mahal, karena memang sangat susah menemukan daging yang disembelih oleh orang muslim. Dan aku langsung terbengong-bengong begitu istri a hong memaksaku untuk membawa kardus besar yang berisi daging halal tersebut. Aku ingin menolaknya, karena pemberian itu terlalu mahal untuk kami. Namun beliau tetap bersikeras memberikan daging tersebut. Akhirnya kami pulang dengan membawa daging sapi halal. Dan malamnya, kami (mahasiswa Indonesia dari UMY dan UBAYA) pun bisa berpesta dengan mengolah daging tersebut menjadi makanan Indonesia. 

Hanya saja aku terheran-heran dengan wanita-wanita muslim yang juga melaksanakan sholat Jum’at sebagaimana laki-laki. Seumur hidupku baru kali ini aku ikut sholat Jum’at. Dan ternyata mereka menganggap bahwa sholat Jum’at itu juga wajib bagi perempuan, sehingga setelah melaksanakan sholat Jum’at mereka tidak sholat dzuhur lagi. Sekarang aku selalu ikut sholat Jum’at berjama’ah untuk mengobati kerinduanku akan rumah Allah. Meskipaun setelah itu aku juga melaksanakan sholat dzuhur, namun itu semua sangat menyenangkan. Karena di masjid aku bisa bertemu dengan saudara-saudara seiman meski usia mereka terpaut jauh dariku.

Untuk urusan makan, restoran muslim di SIAS maupun di Xinzheng sangatlah sedikit, karena jumlah muslim di sini memang minoritas. Namun Alhamdulillah restoran muslim di sini banyak digemari masyarakat China. Karena muslim terkenal akan kebersihan, maka orang-orang pun lebih suka makan di restoran muslim. Hal ini yang membuat kami harus bersabar antri saat membeli makanan di restoran muslim. Untuk mengetahui apakah restoran itu milik orang muslim atau bukan, aku hanya perlu melihat papan namanya. Jika di situ tertera tulisan arab “tho’amul muslimin”, maka aku tidak akan ragu lagi untuk makan daging apapun di situ. 

Kehadiran para muslim di masjid ataupun di kedai dan restoran muslim sungguh sangat membantuku untuk mengobati rasa rinduku terhadap saudara-saudara muslim di Indonesia. Wajah-wajah mereka yang tampak lebih teduh daripada wajah orang China kebanyakan benar-benar membuat hati ini terasa nyaman. Hingga aku merasa seperti berada di negeri sendiri. Ditambah saat ini China tengah menyongsong musim semi yang ceria. Bunga-bunga aneka warna menghiasi taman-taman dan pekarangan. Dan kuntum-kuntum kerinduanku mulai bermekaran menanti satu tahun lagi untuk bertemu deangan para jundi pembela Islam sejati…. (International student dormitory of SIAS International University, 02/04/2012)
                                                                            Kader KAMMI UMY, Arina Fikriya






Tidak ada komentar:

Posting Komentar