Oleh : Rachmat Ardiansyah (Kebijakan
Publik KAMMI Komsat UMY)
Diskursus kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM)
bersubsidi pada 1 april 2012 akhirnya pupus juga. Setelah diskursus tersebut
mewarnai hampir seluruh media massa baik cetak maupun elektronik beberapa minggu yang lalu. Aksi demonstrasi yang dilakukan oleh berbagai
kalangan mulai dari mahasiswa, para buruh, lapisan masyarakat dan lain
sebagainya hampir serentak di seluruh daerah Indonesia. Berbagai macam alasan pemerintah
menaikkan harga BBM dikarenakan sangat besar dipengaruhi oleh gejolak politik
di timur tengah dengan di tutupnya selat hormuz oleh negeri Mullah, Iran. Padahal
satu hal yang sering dilupakan yaitu tingginya belanja birokrasi yang
hakikatnya juga berpengaruh besar dalam diskurus tersebut. Bayangkan saja jika
wacana kenaikan BBM ini naik maka otomatis akan mempengaruhi seluruh biaya
produksi dan
distribusi barang dan kemudian akan berlibas pada peningkatan harga produk..
Sehingga alasan ini wajar saja membuat seluruh elemen masyarakat mengecam
kenaikan BBM tersebut.
Namun, selama demo terjadi tidak sedikit pula mahasiswa
maupun masyarakat lainnya harus membayar mahal aksi mereka tersebut dengan menjadi
korban pemukulan maupun penganiayaan dari pihak keamanan bahkan terluka serius.
Niat baik memang tidak selalu mudah. Kepeduliaan yang dimiliki oleh para demonstran
terhadap rakyat kecil betul-betul terwujud dengan semangat yang berapi-api,
tanpa rasa gentar sedikitpun demi menyeruakan aspirasi rakyat. Meskipun disatu
sisi tidak dapat dipungkiri juga menuai perilaku yang terkesan kurang baik
sebagai seorang mahasiswa yang berwatak intelektual dan sebagai agent of
change (Agen perubahan), hal itu dibuktikan masih melekatnya budaya anarki
dan pengrusakan baik infrastruktur maupun suprastruktur pemerintah yang
sebenarnya tidak semestinya dilakukan. Demo mencapai puncaknya pada hari jumat
30 Maret 2012 sebagian besar demonstran melakukan shalat Jumat berjamaah
dijalanan. Memuncaknya aksi demo tersebut dikarenakan ketetapan baik atau
tidaknya harga BBM tersebut disahkan DPR. Rapat tersebut di akhiri dengan system voting.
Adapun voting tersebut dilakukan dengan 2 opsi yaitu:
1. Tidak ada perubahan apa pun pada
pasal 7 ayat 6 UU APBN 2012, yang isinya tidak memperbolehkan pemerintah
menaikan harga BBM tahun ini.
2. Menerima penambahan pasal 7 ayat
6a yang isinya adalah memperbolehkan pemerintah mengubah harga BBM, jika harga
minyak mentah (Indonesia Crude Price/ICP) mengalami kenaikan atau penurunan
rata-rata 15% dalam waktu 6 bulan.
Hasil voting tersebut adalah: 356 anggota DPR menyetujui opsi
kedua, dan 82 anggota DPR menyetujui opsi pertama. Oleh karena itu, keputusan ini
berarti kenaikan harga BBM sewaktu-waktu saja akan bisa naik jika kondisi harga
pasar tidak stabil. Jika diamati bersama berarti jika harga minyak mentah
tersebut tidak stabil maka DPR tidak dapat mengintervensi kembali keputusan
pemerintah karena itu sudah menjadi domain mutlak pemerintah setelah rapat
paripurna 30 maret kemarin. Sebenarnya penundaan kenaikan BBM hanya berbicara
masalah waktu, namun esensinya akan tetap sama dengan sebelumnya, karena ini
hanya sekedar kompromi politik untuk meredam kemarahan rakyat, namun disamping
itu keputusan dengan membolehkan pemerintah mengubah harga BBM dengan syarat ketentuan
tersebut di atas seakan-akan menjadi asumsi dasar legitimasi hukum bahwa
sebenarnya harga BBM memang sudah layak dinaikkan. Terlepas dari itu semua, disebutkan
berbagai macam alasan-pemerintah menaikkan harga BBM itu sangat besar
dipengaruhi oleh gejolak politik di timur tengah dengan di tutupnya selat hormuz
oleh negeri Mullah, Iran. padahal satu hal yang sering dilupakan yaitu tingginya
belanja birokrasi yang hakikatnya juga berpengaruh besar dalam diskurus
tersebut.
Solusi Krisis Bahan Bakar
Sudah tidak menjadi apologi baru jika Indonesia memiliki
kekayaan yang sangat banyak “Gemah ripah loh jinawi”, Koes Plus grup musik
legendaris indonesia bilang tanah
kita tanah surga tongkat ditanam saja tumbuh, lautannya disebut sebagai
kolam susu. Namun lirik-lirik lagu tersebut hanya sekedar lirik belaka, sebab
“realitas” dilapangan tidak demikian. Pemerintah sebagai makers policy
(pembuat kebijakan) harus jeli melihat kondisi yang masih banyak sumber
daya alamnya belum diberdayakan. Sebenarnya sebelum pemerintah membuat
kebijakan terlebih dahulu harus membaca situasi secara komprehensif dan harus
memberikan solusi yang tepat berupa kebijakan jangka panjang (long term
policy). Ada beberapa alternatif solusi sebagaimana diungkapkan seorang
aktivis KAMMI Pusat Jusman Dalle yaitu di antaranya :
Pertama, diversifikasi bahan bakar. Data dari BP
Migas mengatakan bahwa cadangan minyak bumi Indonesia hanya 4 miliar barel dan
akan habis dalam jangka 12 tahun kedepan. Artinya jika masih bergantung pada
BBM, maka pada tahun 2024 Indonesia 100 persen menggunakan BBM impor yang pasti
akan sangat mahal karena mengacu pada harga pasar minyak internasional.
Pemerintah seharusnya mengoptimalkan sisa
waktu untuk mendorong riset pengembangan bahan bakar non minyak. Banyak
alternatif sumber energi, seperti panas bumi (geothermal), gas alam, bioetanol,
biodiesel, panel surya, bahkan dengan menggunakan air seperti temuan siswa SMK
Langsa, Aceh.
Untuk memanfaatkan energi alternatif
tersebut, tentu butuh SDM yang handal. Salah satu cara melahirkan SDM
kompetitif di bidang energi adalah dengan menggalakkan riset agar ada
temuan-temuan baru atau mematangkan temuan yang telah ada. Namun hasanya,
ternyata anggaran riset juga tidak mendukung. Hanya 0,08 persen dari PDB. Maka
anggaran riset yang sangat sangat kecil tersebut harus diungkit.
Kedua, pemerintah harus tegas kepada pengguna
mobil pribadi yang selama ini menikmati 45,72 persen dari 99,40 persen konsumsi
BBM bersubsidi angkutan darat (Data BP Migas dan Pertamina, 2011). Para
pengguna mobil pribadi yang umumnya berasal dari kelas menengah atas ini perlu
dibuatkan regulasi yang mewajibkan penggunaan BBM non subsidi.
Ketiga, untuk mengurangi konsumsi
BBM kendaraan roda dua yang banyak digunakan masyarakat ekonomi menengah bawah
beraktifitas sehari-hari, maka perlu disiapkan sarana transportasi umum
(massal) yang cepat, nyaman dan murah. Pengguna sepeda motor dengan konsumsi
BBM sebesar 38,76 persen adalah akibat tidak tersedianya sarana transportasi
yang memadai sehingga masyarakat menggunakan kendaraan roda dua.
Keempat, pemerintah semestinya memangkas anggaran
belanja yang tidak tepat sasaran serta menciptakan tata pemerintahan yang
bersih menghindari kebocoran anggaran. Dana dari efisiensi anggaran tersebut
bisa dialihkan ke program pro rakyat. Salah satunya untuk subsidi BBM serta
alokasi riset pengembangan energi alternatif agar tak melulu ribut ketika harga
minyak dunia naik (kedaulatan energi).
Oleh karena itu, pemerintah jangan
tergesa-gesa untuk menaikkan harga BBM, sebab masih banyak jalan menuju roma.
Jangan hanya kepentingan politik atau negara yang menjadi landasan namun
substansi pemerintahan sebagai pelindung dan pelayan rakyat tidak ada bukti
sama sekali. Jika ingin berfikir pragmatis memang kebijakan yang ditempuh akan
seperti itu, tanpa menimbang dampak besar atau buruk yang ditimbulkannya. #
#RevolusiHitam
The Casino - Dr.CMC
BalasHapusThe Casino is 서산 출장안마 located on the Las 김해 출장안마 Vegas 군포 출장안마 Strip in 보령 출장샵 downtown Las Vegas and 충청북도 출장샵 offers live-dealer gambling, an all-new slot, and a $1,000 bonus.