Kamis, 05 Desember 2013

Aksi KAMMI Peduli Lansia

Aksi KAMMI Peduli Lansia
“Kali pertama aku ikut mengajar Lansia bersama teman-teman KAMMI di Panti Sosial Darmaweda. Pengalaman yang sungguh uh... sulit buat dilupakan. Mengajar Lansia benar-benar menyenangkan.

Si mbahnya ramah, walau terkadang ada teman lain mendapati si mbah yang galak. Si mbahnya pendiem dan alus, walau ada juga yang cerewet g ketulungan. Si mbahnya baik, meskipun ada juga yang suka berantem. Si mbahnya punya semangat yang tinggi buat belajar, walau ada yang males-malesan. Semuanya itu berkumpul menjadi satu, itulan si mbah si mbah.... dengan berbagai karekter yang unik. I like it, ngajar lansia bareng temen2 KAMMI.”

Oke, itu lah sepenggal cerita, penuturan dari salah seorang sahabat.

Teman, pernah g terfikir kalaw kita juga akan seperti mereka. Tua, keriput, bungkuk, lemah, cerewet, kaku, kayak anak kecil.... yapzz, kalau Allah masih memberikan umur panjang kepada kita, kemungkinan besar kita akan seperti mereka.

Tahu g si, mereka yang tua dan lemah itu tinggal di sebuah tempat yang jauuuuuuh banget sama keluarganya, kebayang g si? Kalau kita besok mengalami nasib seperti mereka....?? tinggal jauh dari sanak keluarga, anak, cucu... wuiii, pasti sedih banget

Coba deh direnungin, dalam kondisi bathin yang sepi seperti itu, kita hadir .... mengaku sebagai cucu mereka .... dengan penuh kelembutan, kasih sayang, dan cinta membimbing mereka.... mengajar ngaji, memberikan pengetahuan mengenai do’a-do’a, yang sebelumnya mungkin, belum pernah mereka dapetin dari anak atau bahkan cucunya sekali pun...

Kita datang bak air yang langsung menghilangkan dahaga guys ....

Menyejukkan....

Tahu kan, salah satu wujud bakti kita kepada orang tua yang sudah lanjut usia. Membimbing mereka untuk semakin mendekatkan diri pada Allah, the last mission....

Tapi kan mereka bukan orang tua kita? Hohoho...
Pernah denger hadist nabi yang isinya kurang lebih seperti ini : Perumpamaan orang-orang mukmin yang saling mencintai, mengasihi, dan saling menyayangi, bagaikan satu tubuh...

Jangan gara-gara mereka g ada hubungan darah dengan kita, kita jadi acuh dengan mereka. No! Mereka orang muslim, dan mereka saudara kita... Kebayang kan, dengan mengajari mereka baca al qur’an saja, g Cuma mereka yang ngerasain manfaatnya, banyak manfaat yang kita depet disini guys: Kita bisa ngelatih kesabaran guys, selalu inget akan hari tua, yang bisa jadi kita lalui nanti, bisa ngingetin kita biar g sombong, hormat kepada orang tua, n ngelatih kita juga, buat belajar bahasa jawa... Wuiiii... asyikk ...

Oke guys!! pokonya g ada yang lebih keren dari kalian deh guys, yang diluar anak KAMMI aja bangga, masa' kita enggak... So guys.. “Selalu Semangat mengajar Lansia!!”

Tety

Senin, 02 Desember 2013

Baksos, Bentuk Panggilan Hati Para Mahasiswa



Tugas utama mahasiswa adalah kuliah. Fokus pada nilai akademis bukan berarti mahasiswa harus menjadi apatis terhadap keadaan masyarakat sekitar. Justru dengan menjadi mahasiswa, Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) bisa menunjukkan bahwa menjadi mahasiswa yang prestatif dan kontributif terhadap masyarakat bukanlah suatu hal yang mustahil untuk dilakukan.
Hal ini terbukti dengan adanya Bakti sosial KAMMI komisariat Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) yang dilaksanakan pada hari Ahad (01/12) kemarin. Bakti sosial yang diadakan di Masjid At-Taqwa, Desa Temuwuh Lor Rt 05 Gamping ini dimotori oleh kurang lebih 30 anggota KAMMI komisariat UMY dengan dibantu oleh beberapa mahasiswi Stikes Surya Global (SSG) serta Bulan Sabit Merah Indonesia (BSMI). Untuk memeriahkan agenda baksos ini, selain membagikan minyak goreng gratis KAMMI juga mengadakan penyuluhan kesehatan kepada masyarakat Rt 05, pelayanan kesehatan gratis, pembagian baju pantas pakai, serta lomba anak-anak TPA yang membuat anak-anak di desa tersebut antusias untuk memperebutkan hadiah-hadiah yang telah dipersiapkan oleh panitia.
Tak kurang dari 50 warga yang mengikuti agenda ini merasa sangat terbantu dengan adanya bakti sosial dari KAMMI ini. Apalagi banyak di antara warga tersebut yang merupakan warga kurang mampu dan hanya bermata pencaharian sebagai buruh tani atau pembantu rumah tangga. Antusiasme mereka terlihat dengan adanya antrian panjang pemeriksaan kesehatan serta ramainya ibu-ibu dan bapak-bapak yang mengerumuni stand baju pantas pakai untuk memilih-milih baju yang akan mereka ambil.
Agenda bakti sosial KAMMI kali ini adalah agenda swadaya yang diadakan oleh KAMMI komisariat UMY sebagai wujud kontribusi mahasiswa terhadap masyarakat sekitar. Dana untuk kegiatan ini berasal dari proposal kegiatan, sumbangan sukarela mahasiswa serta alumni KAMMI yang mempunyai kepedulian lebih terhadap masyarakat. Out put yang diharapkan dari agenda ini adalah adanya peningkatan rasa kepedulian mahasiswa terhadap masyarakat, sehingga mahasiswa akan lebih peka terhadap permasalahan-permasalahan sosial yang muncul di masyarakat nantinya.
Agenda Bakti Sosial yang merupakan salah satu program kerja Bagian Sosial Kemasyarakatan KAMMI komisariat UMY ini merupakan baksos perdana di kepengurusan 2012/2013 ini. Namun kami berharap agenda seperti ini akan terus berlanjut dan menjadi agenda rutin untuk kepengurusan-kepengurusan selanjutnya. Selain agenda baksos ini, KAMMI komisariat UMY juga mempunyai beberapa agenda sosial lainnya, seperti mengajar anak-anak TPA, mengajar les gratis bagi siswa SD di sekitar sekretariat KAMMI komisariat UMY, serta mengajar mengaji bagi para lansia di Panti Sosial Tresna Wedha, Kasongan. Semoga selanjutnya akan semakin banyak mahasiswa di Indonesia yang aktif, prestatif, serta kontributif bagi masyarakat sekitar. [Arina Fikriya]

Minggu, 01 Desember 2013

Menelisik Nalar Kemenkes “Nafsiah Mboi”

Memperingati Hari AIDS Se-Dunia yang jatuh tanggal 1 Desember, Mentrian Kesehatan dan Komisi Penanggulangan AIDS Nasional, melakukan aksi bagi-bagi kondom gratis sebagai bentuk kampanye seks yang aman.
            Bagi Menteri Kesehatan kita Nafsiah Mboi, pembagian kondom gratis ini tidak perlu dikhawatirkan karena “kondom bukanlah barang terlarang seperti narkotika. Jadi tidak perlu risau jika ada yang bagi-bagi kondom”, begitu katanya di Jakarta (29/11/2013). Menkes juga membandingkannya dengan kegiatan bagi-bagi rokok, yang menurutnya malah berbahaya karena seperti memberi kesempatan generasi muda untuk mencoba rokok. “Dari coba-coba bisa jadi ketagihan merokok”, katanya.
Naah, dari hal yang menjadi fikiran penulis adalah pengelogikaan yang dilakukan oleh Nafsiah Mboi. Pernahkah beliau berfikir, “dari penasaran bagaimana menggunakan kondom, akhirnya mencoba seks”. Atau tidakkah beliau berfikir, pembagian kondom ini juga memberikan kesempatan untuk melakukan seks bebas pada generasi muda, seperti pengelogikaan yang dilakukan pada rokok? Disini penulis mempertanyakan ke konsistenan berfikir Nafsiah Mboi ini sebagai kemenkes.
            Solusi kondom sebagai penyelamat masayarat dari bahaya HIV/AIDS, dan membenci rokok dengan alasan menjaga kesehatan masyarakat itu terlihat indah, namun sesungguhnya manipulatif.
            Ujarnya, “Pemerintah juga harusnya bersyukur penularan HIV/AIDS dapat berkurang dengan menggonakan kondom”. Kondom pada dasarnya bukanlah alat pencegah untuk penularan AIDS, tapi sebagai alat kontrasepsi atau pencegah kehamilan. Perlu diketahui bahwa pori-pori kondom itu sebesar 1/60 mikron, pada saat dipakai pori-prinya membesar hingga 1/6 mikron, sedang ukuran virus HIV adalah 1/250 mikron, mencegah AIDS dengan kondom? Tentunya posisi beliau sebagai Menteri Kesehatan mengetahui hal ini.
            Tidakkah Kemenkes dan KPAN berfikir, bagaiman remaja yang dijadikan sasaran kondom gratis ini, mungkin saja  generasi muda ini yang belum faham akan berfikir, “seks aman ya berarti pakai kondom?”. Disini malah bukanya mengurangi deretan permasalahan di Indonesia tetapi menambah deretan permasalahan, dari perilaku seks bebas asal pakai kondom sampai bertambahnya pengidap HIV/AIDS. Awal penyakit ini adalah karena pergaulan bebas, pemerintah malah memperparahnya dengan tanpa sadar menyemboyankan “seks bebas asal pakai kondom”.
            Tak tanggung tangung, anggaran dana yang dikeluarkan pun sebesar 25 Milyar. Tidakkah Menkes kita berfikir bahwa masih ada banyak hal yang bisa digunakan dengan uang sebanyak itu untuk Indonesia, tidak hanya untuk membeli kondom.

            Harusnya Kemenkes dan KPAN juga sadar, bahwa kebijakan yang mereka tiru dari AS dan negara Barat, bukanlah solusi mencegah penyebaran HIV/AIDS. Karena AS dan negara Barat telah konsisten dengan pembagian kondom gratis tersebut selama beberapa tahun. Tetapi penyebarannya virusnya tetap berlanjut. Jelas kondom gratis bukanlah solusi. [@IslamAji]