Rachmat
A.K (Staff Kebijakan Publik KAMMI UMY)
Bak mata koin sama sisi yang tak
terpisahkan
Dalam lingkaran nafsu keduanya
sekutu yang romantis
Berjibaku dalam kenikmatan hiasan
dunia
Terhampar indah dipintu-pintu
jalan raya.
Suatu hari hati berkata pada mata:
Engkaulah yang menyeretku kepada
kehancuran
Mengakibatkan penyesalan karena
aku menurutimu
Walau sesaat mata memandang dengan
“khusyu'”
Engkau hujamkan matamu ke taman
itu
sembari mencari penawar dalam
kebun yang sakit.
Tak sadarkah engkau meniti
kebinasaan dalam jembatan hina
Menyalahi firman-Nya “ Hendaklah
mereka menahan pendangannya”
Kau salahi sabda Baginda sang
pemilik hakikat cinta
“Memandang wanita adalah panah
beracun
Dari berbagai macam panah iblis.
Kau dzalimi aku sejak awal pagi
hingga akhir
Kau kukuhkan dosaku lahir dan
batin
Padahal aku hanyalah utusanmu yang
selalu taat
Dan penuntun yang menujukkan jalan
kepadamu
Kau adalah raja pemilik singgasana
Perintahmu tak satupun dari
juntamu kan membangkang
Tatkala kau memintaku tuk menutup
tabirku
kutakkan membantah walau mata
meneteskan airnya.
Namun jika kau memintaku memetik
mawar
Di kebun pemilik hati yang sakit
Ku kan nenjadi santapan dan
tawanan abadi
Tatkala mendengar dialog antara
hati dan mata
Seorang pujangga mengomentari :
Mata banyak membuat orang bahagia
Dan hati menjadi tenang
Dulu aku anggap mata dan hati
Sepasang kekasih yang romantis.
Namun semua hanyalah nonsens
belaka
Hatilah yang telah memaksakan
kehendaknya
Namun tubuh menjadi saksi atas
kedustaan mata
Bencana hati memang berasal dari
mata
Andaikata tidak karena mata tak
kan ada derita
Hati tak kan ternoda menjadi
korbannya
Tidak ada komentar:
Posting Komentar