Rabu, 04 April 2012

“Dialog Antara Mata dan Hati"




Rachmat A.K (Staff Kebijakan Publik KAMMI UMY)

Bak mata koin sama sisi yang tak terpisahkan
Dalam lingkaran nafsu keduanya sekutu yang romantis
Berjibaku dalam kenikmatan hiasan dunia
Terhampar indah dipintu-pintu jalan raya.
Suatu hari hati berkata pada mata:
Engkaulah yang menyeretku kepada kehancuran
Mengakibatkan penyesalan karena aku menurutimu
Walau sesaat mata memandang dengan “khusyu'”
Engkau hujamkan matamu ke taman itu
sembari mencari penawar dalam kebun yang sakit.
Tak sadarkah engkau meniti kebinasaan dalam jembatan hina
Menyalahi firman-Nya “ Hendaklah mereka menahan pendangannya”
Kau salahi sabda Baginda sang pemilik hakikat cinta
“Memandang wanita adalah panah beracun
Dari berbagai macam panah iblis.
Mata sinis menyanggah hati :
Kau dzalimi aku sejak awal pagi hingga akhir
Kau kukuhkan dosaku lahir dan batin
Padahal aku hanyalah utusanmu yang selalu taat
Dan penuntun yang menujukkan jalan kepadamu
Kau adalah raja pemilik singgasana
Perintahmu tak satupun dari juntamu kan membangkang
Tatkala kau memintaku tuk menutup tabirku
kutakkan membantah walau mata meneteskan airnya.
Namun jika kau memintaku memetik mawar
Di kebun pemilik hati yang sakit
Ku kan nenjadi santapan dan tawanan abadi
Tatkala mendengar dialog antara hati dan mata
Seorang pujangga mengomentari :
Mata banyak membuat orang bahagia
Dan hati menjadi tenang
Dulu aku anggap mata dan hati
Sepasang kekasih yang romantis.
Namun semua hanyalah nonsens belaka
Hatilah yang telah memaksakan kehendaknya
Namun tubuh menjadi saksi atas kedustaan mata
Bencana hati memang berasal dari mata
Andaikata tidak karena mata tak kan ada derita
Hati tak kan ternoda menjadi korbannya

Tidak ada komentar:

Posting Komentar