LEMBARAN-LEMBARAN PUTIH
memulai kembali
lembaran-lembaran putih yg dulu sempat tertulis
yang dulu pernah hilang terabaikan
didalam kaca, aku membacanya
lembaran-lembaran putih yg dulu sempat tertulis
yang dulu pernah hilang terabaikan
didalam kaca, aku membacanya
sempat tertegun ketika angin
berhembus melewati tatapan mata
sangat kelihat semu sehingga tak bisa dirangkul
senyuman-senyuman indahnya sempat tertahan
-
dahulu semuanya sempat tak pernah bisa kita memulainya
kata-katanya hanaya berada diujung pikiran, lirik-lirikya meriak seakan-akan tak ada yang merangkul
hanya terpesona saja didalam kediaman,,,
sangat kelihat semu sehingga tak bisa dirangkul
senyuman-senyuman indahnya sempat tertahan
-
dahulu semuanya sempat tak pernah bisa kita memulainya
kata-katanya hanaya berada diujung pikiran, lirik-lirikya meriak seakan-akan tak ada yang merangkul
hanya terpesona saja didalam kediaman,,,
kata-kata yg terucap begitu
kesepian dan terabaikan dan tidak ada yang mempedulikannya
-
AKAN tetapi …
-
AKAN tetapi …
diperiode yang baru,. Dikehangatan
yang baru, dikobaran air yang terus menghampiri,
lembaran-lembarak putih itu coba
kita tulis kembali.
Biarlah gemircik gerimis dan panasnya
badai terus menghampiri,
sehingga membuat kita terbiasa
menyediakan payung berlapiskan senyuman
dan yang hanya kita beri adalah
hangatnya rangkulan bagi yang jauh dari indahnya sinar ketenangan jiwa
hanya hari-hari esok hari yang tak bisa kita bayanngkan yang bisa menjawabnya ,,,
dan semangat menghiasi lembaran
putih itu akan terus terlahir kembali dan akan selalu ada
dan akan menjadi saksi bagi kita dikehidupan
terakhir kelak
-----
-----
di depan layar terang.. 100412 (Ye’el)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar