Kamis, 29 Maret 2012

KAMMI sebagai Gerakan Mahasiswa, Dakwah dan Politik



Tahun 1998, puluhan mahasiswa muslim seluruh Indonesia  yang terorganisir di dalam wadah Forum Silaturrahmi Dakwah Kampus (FSLDK) berkumpul di Universitas Muhammadiyah Malang. Mereka berkumpul untuk  menghadiri momentum FSLDK yang ke V sejak awal eksistensinya pada pertengahan 80’an. Puluhan mahasiswa muslim tersebut terfokus membahas isu-isu keIslaman, eksistensi dan elan vitas rakyat Indonesia, khususnya umat Islam yang pada saat itu masih berada pada rezim Orde Baru serta solusi dan strategi yang akan mereka lakukan.
            Melihat kondisi rakyat Indonesia yang semakin menderita oleh kebijakan pemerintah Orde Baru pada saat itu dan krisis multidimensi yang melanda Indonesia sejak tahun 1997. Maka, para mahasiswa muslim itu kemudian mengeluarkan ide untuk mendirikan sebuah organisasi massa mahasiswa untuk mengawal dan mengontrol kebijakan yang diambil oleh pemerintah. Ide ini kemudian disepakati oleh para peserta FSLDK dan pada akhirnya diputuskan untuk mendirikan sebuah organisasi massa mahasiswa yang kemudian diberi nama Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI). KAMMI dideklarasikan oleh Fahri Hamzah pada hari ahad tanggal 29 maret 1998 di Universitas Muhammadiyah Malang.

            Pasca momentum FSLDK ke V di Malang, KAMMI kemudian mulai mengagendakan dinamika yang akan mereka lakukan untuk mengontrol kebijakan pemerintah rezim Orde Baru yang pada saat itu mulai melemah. Pada awal didirikan, KAMMI lebih memposisikan diri sebagai gerakan massa yang seringkali melancarkan aksi-aksi demonstrasi ke jalan, mengkritik pemerintah dan birokrasi yang terindikasi tidak bertanggungjawab dan korup. Pada saat itu KAMMI adalah wadah elemen gerak mahasiswa muslim untuk menyalurkan kegelisahannya terhadap pemerintah, sehingga KAMMI hanya hadir jika pada saat aksi demonstrasi mahasiswa saja, karena KAMMI pada saat itu hanya memposisikan dirinya sebagai kesatuan aksi bukan sebuah institusi yang terorganisir. Eksistensi KAMMI pada awal didirikannya mirip seperti Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI) yang pada tahun  1966 berhasil meruntuhkan rezim Orde Lama. Belakangan setelah runtuhnya rezim Orde Baru, KAMMI kemudian merubah dinamika geraknya menjadi sebuah institusi yang terorganisir dalam bentuk sebuah organisasi mahasiswa.
            Tidak lama berselang setelah KAMMI dilahirkan, kondisi Indonesia semakin memanas dengan ditandai isu untuk menjatuhkan rezim Orde Baru pimpinan Soeharto. Soeharto dinilai sudah rapuh dan tidak lagi memiliki kredibilitas untuk memimpin bangsa Indonesia. Indonesia yang jatuh ke dalam krisis multidemensi yang membelit leher rakyat Indonesia menjadi faktor pencetus lahirnya isu penggulingan ini. Sehingga pemerintah mulai melakukan tindakan preventif sedini mungkin untuk meminimalisir terjadinya aksi penggulingan, terutama untuk organisasi mahasiswa yang diisukan akan mengawali aksi penggulingan Soeharto. Pemerintah kemudian mulai melakukan intervensi ke birokrasi kampus untuk mempersempit dinamika organisasi mahasiswa di kampus. Tetapi upaya pemerintah akhirnya tidak berhasil membendung arus heroisme mahasiswa.
            Pada bulan Mei 1998, organisasi mahasiswa semakin gencar untuk menyerukan berakhirnya rezim Soeharto. Dan pada akhirnya, KAMMI bersama seluruh organisasi mahasiswa berhasil mendesak Soeharto untuk mundur dari jabatannya sebagai presiden Republik Indonesia. Soeharto akhirnya turun dari kursi kepresidenan yang sudah lebih dari tiga dekade didudukinya.
             KAMMI pada dasarnya adalah sebuah organisasi mahasiswa Islam yang mendedikasikan dirinya untuk berdakwah amar ma’ruf nahi munkar. Sebagaimana tercantum di dalam prinsip gerakan KAMMI bahwa; kemenangan Islam adalah semangat perjuangan KAMMI, kebathilan adalah musuh abadi KAMMI, solusi Islam adalah tawaran perjuangan KAMMI, perbaikan adalah tradisi perjuangan KAMMI, kepemimpinan umat adalah strategi perjuangan KAMMI, dan persaudaraan adalah watak muamalah KAMMI. Sehingga KAMMI adalah organisasi dakwah yang senantiasa menyiarkan fikrah Islam yang hanif kepada masyarakat khususnya mahasiswa. Dan KAMMI memahami bahwa menjadi muslim yang kaffah lah umat Islam akan menjadi lebih baik.
            Visi besar KAMMI adalah sebagai wadah permanen yang menciptakan pemimpin-pemimpin masa depan dalam rangka menciptakan masyarakat yang Islami di Indonesia. Sehingga KAMMI senantiasa mengagendakan dinamika yang berorientasi kepada pembentukan pribadi kepemimpinan kader KAMMI. Dengan sarana-sarana yang ada, KAMMI kemudian memformulasikannya untuk menciptakan pemimpin masa depan. KAMMI memahami bahwa pemimpin yang kuat adalah pemimpin yang mengenal Islam dengan pemahaman yang menyeluruh (Syumuliyatul Islam) dengan mengoptimalkan bekal nilai kewahyuan dari Allah serta qudwah (ketauladanan) dari Rasulullah SAW. Sehingga dalam salah satu paradigma gerak KAMMI, mennyatakan bahwa KAMMI mengorientasikan dirinya untuk menjadi intelektual profetik yang tidak hanya memiliki kepribadian sebagai pemimpin namun juga memiliki kepakaran terhadap disiplin keilmuan berdasarkan qudwah dari Rasulullah SAW.
Ranah politik menjadi kajian yang penting bagi KAMMI disamping berdakwah untuk membangun bangsa Indonesia yang kini sedang dalam masa transisi menuju bangsa yang sejahtera. KAMMI memahami bahwa politik adalah suatu instrumen yang strategis untuk merubah bangsa Indonesia menjadi bangsa yang maju. Sebagaimana politik merupakan salah satu domain penting yang dapat merubah tatanan sebuah negara secara sistemik disamping domain hukum, militer, ekonomi dan barangkali media massa. Dengan politik, KAMMI kemudian menjadi pengontrol kebijakan pemerintah yang kritis dan konstruktif dengan kepekaan KAMMI terhadap isu nasional dan internasional. KAMMI juga turut serta merangkul elemen masyarakat untuk senantiasa peka terhadap kebijakan pemerintah  dengan melakukan pendidikan politik untuk mengatasi kegagapan masyarakat akan politik dan kesejahteraan rakyat. Wallahu alam bishawab

Zulfikhar
Mahasiswa Ilmu Keperawatan
Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan


Tidak ada komentar:

Posting Komentar