Tahun
1998, puluhan mahasiswa muslim seluruh Indonesia yang terorganisir di dalam wadah Forum
Silaturrahmi Dakwah Kampus (FSLDK) berkumpul di Universitas Muhammadiyah Malang.
Mereka berkumpul untuk menghadiri
momentum FSLDK yang ke V sejak awal eksistensinya pada pertengahan 80’an. Puluhan
mahasiswa muslim tersebut terfokus membahas isu-isu keIslaman, eksistensi dan
elan vitas rakyat Indonesia, khususnya umat Islam yang pada saat itu masih
berada pada rezim Orde Baru serta solusi dan strategi yang akan mereka lakukan.
Melihat kondisi rakyat Indonesia
yang semakin menderita oleh kebijakan pemerintah Orde Baru pada saat itu dan
krisis multidimensi yang melanda Indonesia sejak tahun 1997. Maka, para mahasiswa
muslim itu kemudian mengeluarkan ide untuk mendirikan sebuah organisasi massa
mahasiswa untuk mengawal dan mengontrol kebijakan yang diambil oleh pemerintah.
Ide ini kemudian disepakati oleh para peserta FSLDK dan pada akhirnya
diputuskan untuk mendirikan sebuah organisasi massa mahasiswa yang kemudian
diberi nama Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI). KAMMI
dideklarasikan oleh Fahri Hamzah pada hari ahad tanggal 29 maret 1998 di
Universitas Muhammadiyah Malang.
Pasca momentum FSLDK ke V di Malang,
KAMMI kemudian mulai mengagendakan dinamika yang akan mereka lakukan untuk
mengontrol kebijakan pemerintah rezim Orde Baru yang pada saat itu mulai
melemah. Pada awal didirikan, KAMMI lebih memposisikan diri sebagai gerakan
massa yang seringkali melancarkan aksi-aksi demonstrasi ke jalan, mengkritik
pemerintah dan birokrasi yang terindikasi tidak bertanggungjawab dan korup.
Pada saat itu KAMMI adalah wadah elemen gerak mahasiswa muslim untuk
menyalurkan kegelisahannya terhadap pemerintah, sehingga KAMMI hanya hadir jika
pada saat aksi demonstrasi mahasiswa saja, karena KAMMI pada saat itu hanya memposisikan
dirinya sebagai kesatuan aksi bukan sebuah institusi yang terorganisir. Eksistensi
KAMMI pada awal didirikannya mirip seperti Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia
(KAMI) yang pada tahun 1966 berhasil
meruntuhkan rezim Orde Lama. Belakangan setelah runtuhnya rezim Orde Baru,
KAMMI kemudian merubah dinamika geraknya menjadi sebuah institusi yang
terorganisir dalam bentuk sebuah organisasi mahasiswa.
Tidak lama berselang setelah KAMMI
dilahirkan, kondisi Indonesia semakin memanas dengan ditandai isu untuk
menjatuhkan rezim Orde Baru pimpinan Soeharto. Soeharto dinilai sudah rapuh dan
tidak lagi memiliki kredibilitas untuk memimpin bangsa Indonesia. Indonesia
yang jatuh ke dalam krisis multidemensi yang membelit leher rakyat Indonesia
menjadi faktor pencetus lahirnya isu penggulingan ini. Sehingga pemerintah
mulai melakukan tindakan preventif sedini mungkin untuk meminimalisir terjadinya
aksi penggulingan, terutama untuk organisasi mahasiswa yang diisukan akan
mengawali aksi penggulingan Soeharto. Pemerintah kemudian mulai melakukan
intervensi ke birokrasi kampus untuk mempersempit dinamika organisasi mahasiswa
di kampus. Tetapi upaya pemerintah akhirnya tidak berhasil membendung arus
heroisme mahasiswa.
Pada bulan Mei 1998, organisasi
mahasiswa semakin gencar untuk menyerukan berakhirnya rezim Soeharto. Dan pada
akhirnya, KAMMI bersama seluruh organisasi mahasiswa berhasil mendesak Soeharto
untuk mundur dari jabatannya sebagai presiden Republik Indonesia. Soeharto
akhirnya turun dari kursi kepresidenan yang sudah lebih dari tiga dekade
didudukinya.
KAMMI pada dasarnya adalah sebuah organisasi
mahasiswa Islam yang mendedikasikan dirinya untuk berdakwah amar ma’ruf nahi munkar. Sebagaimana
tercantum di dalam prinsip gerakan KAMMI bahwa; kemenangan Islam adalah
semangat perjuangan KAMMI, kebathilan adalah musuh abadi KAMMI, solusi Islam
adalah tawaran perjuangan KAMMI, perbaikan adalah tradisi perjuangan KAMMI,
kepemimpinan umat adalah strategi perjuangan KAMMI, dan persaudaraan adalah
watak muamalah KAMMI. Sehingga KAMMI adalah organisasi dakwah yang senantiasa
menyiarkan fikrah Islam yang hanif kepada masyarakat khususnya mahasiswa. Dan
KAMMI memahami bahwa menjadi muslim yang kaffah
lah umat Islam akan menjadi lebih baik.
Visi besar KAMMI adalah sebagai wadah
permanen yang menciptakan pemimpin-pemimpin masa depan dalam rangka menciptakan
masyarakat yang Islami di Indonesia. Sehingga KAMMI senantiasa mengagendakan
dinamika yang berorientasi kepada pembentukan pribadi kepemimpinan kader KAMMI.
Dengan sarana-sarana yang ada, KAMMI kemudian memformulasikannya untuk menciptakan
pemimpin masa depan. KAMMI memahami bahwa pemimpin yang kuat adalah pemimpin
yang mengenal Islam dengan pemahaman yang menyeluruh (Syumuliyatul Islam) dengan mengoptimalkan bekal nilai kewahyuan
dari Allah serta qudwah (ketauladanan) dari Rasulullah SAW. Sehingga dalam salah
satu paradigma gerak KAMMI, mennyatakan bahwa
KAMMI mengorientasikan dirinya untuk menjadi intelektual profetik yang tidak
hanya memiliki kepribadian sebagai pemimpin namun juga memiliki kepakaran
terhadap disiplin keilmuan berdasarkan qudwah dari Rasulullah SAW.
Ranah politik menjadi kajian yang penting bagi
KAMMI disamping berdakwah untuk membangun bangsa Indonesia yang kini sedang
dalam masa transisi menuju bangsa yang sejahtera. KAMMI memahami bahwa politik
adalah suatu instrumen yang strategis untuk merubah bangsa Indonesia menjadi bangsa
yang maju. Sebagaimana politik merupakan salah satu domain penting yang dapat
merubah tatanan sebuah negara secara sistemik disamping domain hukum, militer,
ekonomi dan barangkali media massa. Dengan politik, KAMMI kemudian menjadi
pengontrol kebijakan pemerintah yang kritis dan konstruktif dengan kepekaan
KAMMI terhadap isu nasional dan internasional. KAMMI juga turut serta merangkul
elemen masyarakat untuk senantiasa peka terhadap kebijakan pemerintah dengan melakukan pendidikan politik untuk
mengatasi kegagapan masyarakat akan politik dan kesejahteraan rakyat. Wallahu alam bishawab
Zulfikhar
Mahasiswa
Ilmu Keperawatan
Fakultas
Kedokteran dan Ilmu Kesehatan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar