Ass.w.w..
saya mengawali dengan penggalan puisi dari KH. Musthofa Bisri
.......................
Mahasiswa-mahasiswa
yang dulu suka berdemonstrasi
Sudah banyak yang jadi menteri dan didemonstrasi.
Sudah banyak yang jadi menteri dan didemonstrasi.
(Hari
ini setelah enam puluh tahun kita merdeka
ingin rasanya aku mengajak kembali
mereka semua yang kucinta
untuk mensyukuri lebih dalam lagi
rahmat kemerdekaan ini
dengan mereformasi dan meretas belenggu tirani
diri sendiri
bagi merahmati sesama)
Rasanya baru kemarin
Ternyata sudah enam puluh tahun kita
Merdeka
(Ingin rasanya
aku sekali menguak angkasa
dengan pekik yang lebih perkasa:
Merdeka!)
Tidak terasa ketika 60
tahun lebih indonesia merdeka namun pada kenyataan kemerdekaan itu belum di
rasakan oleh sebagian besar masyarakat. Indonesia yang kaya akan sumber daya
energi, minyak, gas batu bara dan lain lain. Ternyata masih belum berdaulat
akan kekayaannya itu. Tengoklah exon, freeport, newmont dan masih banyak lainnya
yang dengan sadar merampok negeri ini. Tiap episode dalam perjalanannya 60
tahun indonesia berganti rezim – berganti kepala negara. Orde lama, orde baru
hinggga reformasi. Tetap saja negara belum berdaulat penuh terutama atas sumber
daya alamnya. Kita tidak perlu kembali jauh melihat sejarah lampau yang
sepertinya baru kemarin terlewatkan. Karena saya akan mencoba mengajak pembaca
untuk menyusuri perjalanan yang dikatakan sebagai era baru bangsa Indonesia.
Iya ! reformasi 1998. Sudah 14 tahun yang lalu namun serasa baru tadi pagi kita
mereformasi negara ini, baru tadi pagi turun ke jalan. Kini kita harus turun
lagi ke jalan bukan hanya sekedar reformasi tapi mungkin revolusi.
Mendemonstrasi orang yang dulu berdemonstrasi. Memperjuangkan hal yang sama
yang dulu di perjuangkan. Yakni perut rakyat, rakyat yang akan tercekik dengan
rencana kenaikan harga BBM
Merefleksikan kembali
14 tahun reformasi, mengingatkan kita pada sebuah penggalan sejarah gerakan
mahasiswa. KAMMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia) lahir dan keluar
untuk ikut serta bersama rakyat memperjuangkan nasib bangsa. KAMMI lahir dari
Masjid Kampus, tepatnya ketika dilaksanakan forum silaturahmi lembaga dakwah
kampus se- nasional (FSLDK-N) di kampus UMM. KAMMI lahir dikarenakan krisis
multidimensional (krisis ekonomi,politik,sosial moral) yang terjadi pada bangsa
ini, dan begitupula KAMMI bertahan hingga
sekarang karena hal yang sama. Yakni mengawal agenda reformasi atau
mungkin revolusi, kemudian terus melahirkan dan menyediakan pengganti yang
harusnya lebih baik dari sebelumnya.
Saya
menulis ini bukan sebagai pelaku sejarah reformasi akan tetapi sekedar berusaha
merangkai sejarah yang mungkin orang sudah lupa akan cita cita sebuah
perjuangan yang berat. Tidak hanya krisis ekonomi yang belum saja rampung
tuntas dari bangsa ini, namun krisis moral yang semakin menggrogoti para
penguasa bahkan hingga anak negeri. Rasanya kata dan makna “malu” sudah mulai
redup atau bahkan lenyap dalam kamus bahasa indonesia terlebih dalam bahasa
politik negara ini. Mereka yang mengampanyekan Stop Korupsi kini terjerat
korupsi, dan dengan asiknya woro-wiri kesana kemari, roadshow di tiap media
hingga keluar negeri. Atau mereka yang asik keluar negeri di tengah rakyatnya
berteriak menolak kebijakan yang tak bernurani. Sekali lagi, sepertinya makna
malu telah hilang dalam kamus kita. Ini lah sekelumit realitas yang terjadi di
negeri ini sejak reformasi hingga sekarang belum tuntas.
KAMMI
hadir dalam dua karakter gerakan, yakni sebagai gerakan amal organisasi kader (harokatu tajnid) dan organisasi pergerakan
(harokatul amal). Sebagai
gerakan Kader ini lah KAMMI senantiasa melahirkan Pemimpin masa depan. pemimpin
yang siap menggantikan pemimpin-pemimpin yang bobrok dan pengecut. Atas dasar
ini juga yang menjadikan KAMMI tetap ada/ permanent untuk terus menyiapkan
pemimpin melalui pembinaan yang ada di KAMMI sendiri.
Selamat
membaca bagi antum Kader Kammi, selamat bergabung dalam “pabrikan” pemimpin
masa depan, dan selamat untuk menjadi inti dalam “gudang” pemimpin masa depan.
Selamat
Milad KAMMI ke – 14, dalam usia yang belia ini semoga semakin mendewasa dalam
pemikiran, dan mendewasa dalam gerak. Cita cita dan Perjuangan ini akan selalu
ada. Allahu akbar
Ketua
Umum Kammi Komisariat UMY
Andi
Hijrian
Tidak ada komentar:
Posting Komentar