Kamis, 29 Maret 2012

Pemuda sebagai gerbong perubahan


Secara biologis, usia 16 - 35 tahun bisa dibilang-adalah masa-masa “kejayaan” bagi seseorang. Dimana pada rentang usia inilah seseorang mampu melaksanakan banyak hal yang sangat produktif, sebagai contoh secara fisik banyak atlit-atlit mencapai puncak prestasi adalah dalam rentang waktu ini. Mick Doohan misalnya “memulai” karier di era top flight pada usia 25 tahunan. Makanya saat berada dipuncak karier (setidaknya top 3 dunia) berusia diatas 27 tahun. Lihat bagaimana karier Doohan sendiri diGP500 gelar pertamanya di usia 29 tahun. Hal yang sama juga berlaku dengan Cadalora yang memulai karier di GP500 di usia 30 tahun. Biaggi di usia 28 tahun hingga Okada dan Gibernau di usia 29 tahun. Stoner, Pedrosa, Lorenzo dan Simonceli mereka memulai karir di “top flight” pada usia 21-23 tahunan, disaat pembalap era 90an yang berusia 25 tahun baru memulai, baik Stoner, Lorenzo dan Pedrosa sudah dipuncak karir ! Inilah yang membedakan. Memulai karir di top Flight di usia belia sendiri sebenarnya sudah dilakukan Valentino Rossi ia memulai karir di GP 500 saat berusia 22 tahun. Begitu juga misalnya dengan pemain sepak bola, rata-rata mengalami puncak karir pada usia tersebut dan mulai redup ketika usianya mulai menginjak 36 tahun dengan berbagai alsan mulai dari stamina, kesehatan hingga sudah merasa bosan.
Pemuda sebagai agen perubahan

                Princeton mendefinisikan kata pemuda (youth) dalam kamus Webstersnya sebagai “the time of life between childhood and maturity; early maturity; the state of being young or immature or inexperienced; the freshness and vitality characteristic of a young person”.
                Definisi yang berbeda ditunjukkan oleh Alquran. Dalam kaidah bahasa Qur’ani pemuda atau yang disebut “asy-syabab”didefinisikan dalam ungkapan sifat dan sikap seperti:
1. berani merombak dan bertindak revolusioner terhadap tatanan sistem yang rusak. Seperti kisah pemuda (Nabi) Ibrahim. “Mereka berkata: ‘Siapakah yang (berani) melakukan perbuatan ini terhadap tuhan-tuhan kami? Se­sungguhnya dia termasuk orang orang yang zalim, Mereka berkata: ‘Kami dengar ada seorang pemuda yang (berani) mencela berhala-berhala ini yang bernama Ibrahim.” (QS.Al­-Anbiya, 21:59-60).
2. memiliki standar moralitas (iman), berwawasan, bersatu, optimis dan teguh dalam pendirian serta konsisten dalam dengan perkataan. Seperti tergambar pada kisah Ash-habul Kahfi (para pemuda penghuni gua).“Kami ceritakan kisah me­reka kepadamu (Muhammad) dengan sebenarnya. Sesungguhnya mereka itu adalah pemuda-pe­muda yang beriman kepada Tuhan mereka dan Kami tambah­kan kepada mereka petunjuk; dan Kami telah meneguhkan hati mereka di waktu mereka berdiri, lalu mereka mengatakan: “Tuhan kami adalah Tuhan langit dan bumi; kami sekali-kali tidak menyeru Tuhan selain Dia, se­sungguhnya kami kalau demikian telah mengucapkan perkataan yang amat jauh dari kebenaran” (QS.18: 13-14).
3. seorang yang tidak berputus-asa, pantang mundur sebelum cita-citanya tercapai. Seperti digambarkan pada pribadi pemuda (Nabi) Musa. “Dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada muridnya, “Aku tidak akan berhenti (berjalan) sebelum sampai kepertemuan dua buah lautan; atau aku akan ber­jalan sampai bertahun-tahun” (QS. Al-Kahfi,18 : 60).
               
                Kelebihan pemuda adalah mereka mempunyai fisik yang kuat dan semangat pantang menyerah. Oleh karenanya keterpaduan antara kekuatan fisik dan tingginya semangat akan menghasilkan kejayaan. Oleh sebab itulah hampir tidak ada sejarah besar suatu bangsa tanpa adanya peran dari para pemudanya, tentu kita ingat bagaimana semangat arek-arek Surabaya dalam pertempuran 10 November di Surabaya, dengan semangat untuk mempertahankan kemerdekaan dari penjajah. Melalui Radio Bung Tomo berpidato  membakar semangat para pemuda dengan teriakan Takbir-takbirnya untuk kembali mengangkat senjata mengusir penjajah. Akhirnya dengan semangat tempur yang tinggi mereka mampu mengusir penjajah dari Surabaya, yang kemudian peristiwa tersebut diabadikan sebagai hari Pahlawan. Begitu juga semangat perjuangan mempertahankan kemerdekaan juga ditunjukkan para pejuang kita dan masyarakat Yogyakarta yang mampu mengusir penjajah dari Yogyakarta yang kala itu sebagai Ibu kota Negara Indonesia, sekali lagi semangat pemuda dari berbagai pelosok dari berbagai kesatuan pasukan akhirnya mampu menunjukkan kepada dunia bahwa NKRI masih ada, mereka berhasil mengusir Belanda dari Yogyakarta, pertempuran perebuta Yogyakarta inipun kemudian diabadikan dengan sebutan Serangan Umum 1 maret karena peristiwa pertempuran itu terjadi pada tanggal 1 Maret 1949.
Bahkan dalam perjalanan bangsa ini hingga usianya yang ke 66 tahun, banyak sekali kita mencatat peran-peran pemuda dalam menghiasi dinamika perubahan pemerintahan. Di tahun 1966 gelombang aksi besar-besaran mahasiswa dikenal denga trikora ( tiga tuntutan rakyat) yang pada akhirnya mengakhiri rezim orde lama dengan Soekarno sebagai penguasaanya, begitu juga dengan penguasa orde baru Soeharto yang memipin bangsa ini lebih dari 32 tahun, akhhirnya dapat ditmbangkan oleh gelombang aksi Mahasiswa pada tahun 1998  Agenda reformasi yang menjadi tuntutan para mahasiswa mencakup beberapa tuntutan, seperti: Adili Suharto dan kroni-kroninya, Laksanakan amandemen UUD 1945, Penghapusan Dwi Fungsi ABRI, Pelaksanaan otonomi daerah yang seluasluasnya, Tegakkan supremasi hukum,  Ciptakan pemerintahan yang bersih dari KKN.
 Apakah setelah 11 tahun usia reformasi semua tuntutan reformasi ini sudah terlaksana? Atau bahkan jauh dari harapan, tentu kita semua tahu jawabannya, “belum”. Oleh karena itu sekaranglah saatnya pemuda untuk bangkit kembali dari zona “nyamannya”, karena pemuda adalah sosok yang visioner, tidak mudah menyerah apalagi terlena dengan keadaan, yang dibutuhkan sekarang adalah adanya kekuatan baru dan mahasiswa untuk mampu membuat gebrakan baru dalam sejarah bangsa ini, pemuda yang mampu menjawab tantangan sosial, bukan pemuda yang hanya asyik dengan hobinya masing-masing, kita akan malu dan merasa berdosa pada para pejuang yang mengorbankan nyawanya untuk merebut dan mempertahankan kemerdekaan, sedangkan generasi muda sebagai pewaris perjuangan hanya asyik dengan gaya hidupnya yang hedonis, foya-foya dan jauh dari prestasi yang membangggakan.

Oleh : Andi Saputro



Tidak ada komentar:

Posting Komentar