Secara biologis, usia 16 - 35 tahun bisa
dibilang-adalah masa-masa “kejayaan” bagi seseorang. Dimana pada rentang usia
inilah seseorang mampu melaksanakan banyak hal yang sangat produktif, sebagai contoh
secara fisik banyak atlit-atlit mencapai puncak prestasi adalah dalam rentang
waktu ini. Mick Doohan misalnya “memulai” karier di era top flight pada usia 25
tahunan. Makanya saat berada dipuncak karier (setidaknya top 3 dunia) berusia
diatas 27 tahun. Lihat bagaimana karier Doohan sendiri diGP500 gelar pertamanya
di usia 29 tahun. Hal yang sama juga berlaku dengan Cadalora yang memulai
karier di GP500 di usia 30 tahun. Biaggi di usia 28 tahun hingga Okada dan
Gibernau di usia 29 tahun. Stoner, Pedrosa, Lorenzo dan Simonceli mereka
memulai karir di “top flight” pada usia 21-23 tahunan, disaat pembalap era 90an
yang berusia 25 tahun baru memulai, baik Stoner, Lorenzo dan Pedrosa sudah
dipuncak karir ! Inilah yang membedakan. Memulai karir di top Flight di usia
belia sendiri sebenarnya sudah dilakukan Valentino Rossi ia memulai karir di GP
500 saat berusia 22 tahun. Begitu juga misalnya dengan pemain sepak bola,
rata-rata mengalami puncak karir pada usia tersebut dan mulai redup ketika
usianya mulai menginjak 36 tahun dengan berbagai alsan mulai dari stamina,
kesehatan hingga sudah merasa bosan.
Pemuda sebagai agen
perubahan
Princeton mendefinisikan kata
pemuda (youth) dalam kamus Webstersnya sebagai “the time of life
between childhood and maturity; early maturity; the state of being young or
immature or inexperienced; the freshness and vitality characteristic of a young
person”.
Definisi yang berbeda ditunjukkan oleh
Alquran. Dalam kaidah bahasa Qur’ani pemuda atau yang disebut
“asy-syabab”didefinisikan dalam ungkapan sifat dan sikap seperti:
1. berani merombak dan
bertindak revolusioner terhadap tatanan sistem yang rusak. Seperti kisah pemuda
(Nabi) Ibrahim. “Mereka
berkata: ‘Siapakah yang (berani) melakukan perbuatan ini terhadap tuhan-tuhan
kami? Sesungguhnya dia termasuk orang orang yang zalim, Mereka berkata: ‘Kami
dengar ada seorang pemuda yang (berani) mencela berhala-berhala ini yang
bernama Ibrahim.” (QS.Al-Anbiya,
21:59-60).
2. memiliki standar
moralitas (iman), berwawasan, bersatu, optimis dan teguh dalam pendirian serta
konsisten dalam dengan perkataan. Seperti tergambar pada kisah Ash-habul Kahfi
(para pemuda penghuni gua).“Kami ceritakan kisah mereka kepadamu (Muhammad) dengan sebenarnya.
Sesungguhnya mereka itu adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka
dan Kami tambahkan kepada mereka petunjuk; dan Kami telah meneguhkan hati
mereka di waktu mereka berdiri, lalu mereka mengatakan: “Tuhan kami adalah
Tuhan langit dan bumi; kami sekali-kali tidak menyeru Tuhan selain Dia, sesungguhnya
kami kalau demikian telah mengucapkan perkataan yang amat jauh dari kebenaran” (QS.18: 13-14).
3. seorang yang tidak
berputus-asa, pantang mundur sebelum cita-citanya tercapai. Seperti digambarkan
pada pribadi pemuda (Nabi) Musa. “Dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada muridnya, “Aku tidak akan
berhenti (berjalan) sebelum sampai kepertemuan dua buah lautan; atau aku akan
berjalan sampai bertahun-tahun” (QS. Al-Kahfi,18 : 60).
Kelebihan pemuda
adalah mereka mempunyai fisik yang kuat dan semangat pantang menyerah. Oleh
karenanya keterpaduan antara kekuatan fisik dan tingginya semangat akan
menghasilkan kejayaan. Oleh sebab itulah hampir tidak ada sejarah besar suatu
bangsa tanpa adanya peran dari para pemudanya, tentu kita ingat bagaimana semangat
arek-arek Surabaya dalam pertempuran 10 November di Surabaya, dengan semangat
untuk mempertahankan kemerdekaan dari penjajah. Melalui Radio Bung Tomo
berpidato membakar semangat para pemuda
dengan teriakan Takbir-takbirnya untuk kembali mengangkat senjata mengusir
penjajah. Akhirnya dengan semangat tempur yang tinggi mereka mampu mengusir
penjajah dari Surabaya, yang kemudian peristiwa tersebut diabadikan sebagai
hari Pahlawan. Begitu juga semangat perjuangan mempertahankan kemerdekaan juga
ditunjukkan para pejuang kita dan masyarakat Yogyakarta yang mampu mengusir
penjajah dari Yogyakarta yang kala itu sebagai Ibu kota Negara Indonesia,
sekali lagi semangat pemuda dari berbagai pelosok dari berbagai kesatuan
pasukan akhirnya mampu menunjukkan kepada dunia bahwa NKRI masih ada, mereka
berhasil mengusir Belanda dari Yogyakarta, pertempuran perebuta Yogyakarta
inipun kemudian diabadikan dengan sebutan Serangan Umum 1 maret karena
peristiwa pertempuran itu terjadi pada tanggal 1 Maret 1949.
Bahkan dalam perjalanan bangsa
ini hingga usianya yang ke 66 tahun, banyak sekali kita mencatat peran-peran
pemuda dalam menghiasi dinamika perubahan pemerintahan. Di tahun 1966 gelombang
aksi besar-besaran mahasiswa dikenal denga trikora ( tiga tuntutan rakyat) yang
pada akhirnya mengakhiri rezim orde lama dengan Soekarno sebagai penguasaanya,
begitu juga dengan penguasa orde baru Soeharto yang memipin bangsa ini lebih
dari 32 tahun, akhhirnya dapat ditmbangkan oleh gelombang aksi Mahasiswa pada
tahun 1998 Agenda
reformasi yang menjadi tuntutan para mahasiswa mencakup beberapa tuntutan,
seperti: Adili Suharto dan kroni-kroninya, Laksanakan amandemen UUD 1945,
Penghapusan Dwi Fungsi ABRI, Pelaksanaan otonomi daerah yang seluasluasnya,
Tegakkan supremasi hukum, Ciptakan pemerintahan yang bersih dari KKN.
Apakah setelah 11
tahun usia reformasi semua tuntutan reformasi ini sudah terlaksana? Atau bahkan
jauh dari harapan, tentu kita semua tahu jawabannya, “belum”. Oleh karena itu
sekaranglah saatnya pemuda untuk bangkit kembali dari zona “nyamannya”, karena
pemuda adalah sosok yang visioner, tidak mudah menyerah apalagi terlena dengan
keadaan, yang dibutuhkan sekarang adalah adanya kekuatan baru dan mahasiswa
untuk mampu membuat gebrakan baru dalam sejarah bangsa ini, pemuda yang mampu
menjawab tantangan sosial, bukan pemuda yang hanya asyik dengan hobinya
masing-masing, kita akan malu dan merasa berdosa pada para pejuang yang
mengorbankan nyawanya untuk merebut dan mempertahankan kemerdekaan, sedangkan
generasi muda sebagai pewaris perjuangan hanya asyik dengan gaya hidupnya yang
hedonis, foya-foya dan jauh dari prestasi yang membangggakan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar